Panduan Wisata Indonesia

Identitas Suku Bangsa Batak

identitas Batak
Traditional Batak house © Rene Drouyer|Dreamstime.com
Istilah Batak ditujukan untuk beberapa kelompok etnik yang mendiami wilayah propinsi Sumatra Utara, bagian selatan Aceh, Angkola, Karo, Mandailing, Pakpak, Simalungun, Toba, dan lainnya. Jumlah orang Batak kurang lebih 3 juta jiwa. Secara kultural, mereka tidak memiliki aturan-aturan etika yang terlalu kompleks maupun hirarki sosial seperti halnya masyarakat Indonesia yang sudah terpengaruh budaya Hindu. Mereka cenderung mempunyai kemiripan dengan para kaum peladang di dataran tinggi Asia Tenggara lainnya, meskipun beberapa dari mereka ada juga yang bercocok tanam padi.

Lain halnya seperti suku Bali yang mempunyai beberapa kelompok masyarakat dengan perbedaan tradisi tetapi menyatukan diri, atau suku Jawa yang mengelompokkan diri mereka dalam suatu desa atau lingkungan, orang Batak mengasosiasikan diri mereka dalam tradisi kelompok yang disebut marga, berdasar dari garis keturunan pihak laki-laki. Kelompok ini memegang kepemilikan tanah dan melarang perkawinan sesama anggota. Secara tradisional, setiap marga merupakan unit pemberi istri dan penerima istri, di mana seorang laki-laki muda mengambil istri dari klan pihak keluarga ibu dan seorang perempuan muda menikahi seseorang dari keluarga bibi yang berasal dari pihak ayah.

Ketika wilayah Sumatra masih luas dan populasi penduduknya masih rendah disertai suplai hutan yang tak terbatas, sistem kepemilikan tanah dan autoritas ini bisa berfungsi dengan baik. Sebuah grup bisa saja memisahkan diri dari kelompok lama jika mereka ingin memulai usaha di tempat yang baru sekaligus mengklaim daerah yang baru sebagai milik mereka. Jika kehidupan kelompok atau marga yang baru ini menjadi makmur, anggota keluarga yang lain akan diundang untuk menetap di sana dan membangun perkawinan antar keluarga terutama dengan penduduk terdahulu yang otomatis memegang kendali hukum di seluruh wilayah tersebut. Silsilah keturunan dijaga dengan baik dan diturunkan dari generasi ke generasi berikutnya melalui cerita-cerita yang kemudian akan diperdengarkan dalam upacara kematian. Bantuan dan kerjasama khususnya dalam pengelolaan tanah merupakan kewajiban terhadap leluhur dan anggota baru yang bergabung dalam keluarga diharuskan menghormati aturan ini. Marga sudah terbukti sebagai unit sosial yang fleksibel dalam tatanan sosial masyarakat Indonesia kotemporer dewasa ini. Orang Batak yang menetap di daerah urban seperti Medan dan Jakarta membentuk perkumpulan marga sebagai sarana untuk mendapatkan dukungan di bidang finansial maupun aliansi politik. Di saat sistem kerjasama Marga telah mengalami perubahan mendasar dalam beberapa aspek, orang-orang Batak yang migrasi ke tempat lain tetap menjunjung tinggi identitas etnis mereka. Suku Batak telah membuktikan diri mereka sebagai orang-orang yang kreativ dalam mengekspresikan diri dan tradisi mereka melalui sarana media di dunia modern. Seorang Anthropologi Susan Rodgers menunjukkan adanya sebuah kaset rekaman drama yang mirip cerita opera beredar luas di kalangan masyarakat Batak yang mendramatisir sekitar dilema moral dan kultural dalam usaha untuk mengingatkan kewajiban dan rasa persaudaraan antar mereka di tengah perkembangan dunia yang semakin pesat. Sebagai tambahan, mereka juga berhasil memproduksi suatu buku panduan yang didesign bagi kalangan muda, kaum urban maupun anggota-anggota keluarga yang sudah menganut paham sekular, bagaimana caranya menyiasati tradisi perkawinan serta kematian yang sangat kompleks tersebut.





Written by The Library of Congress - Country Studies

Data as of November 1992

Diterjermahkan secara bebas oleh Endang Lestari

Bahasa Indonesia Inggris Jerman

Bahasa