Panduan Wisata Indonesia

Identitas Suku Bangsa Bajau

identitas Bajau
Traditional Fishing Boat in Indonesia © Reinhard Kuchenbaecker
Orang Bajau alias orang laut dari Sulawesi, Indonesia telah menjelajahi lautan selama beberapa generasi, menggunakan keterampilan pelaut mereka yang terkenal dan alat sederhana untuk mencari nafkah. Tapi gaya hidup tradisional mereka berada di bawah ancaman karena mereka harus bersaing untuk menangkap ikan dengan perahu-perahu nelayan ilegal dari Taiwan dan Filipina, serta nelayan Indonesia yang menggunakan bom sianida. Marianne Kearney menuliskan pengalamannya dari kecamatan Kendari di pesisir Propinsi Sulawesi, Indonesia.

Warta Berita bagi kelompok masyarakat ini disiarkan dalam bahasa Bajau, bahasa dari etnis Bajau atau suku laut. Setiap Rabu malam sekelompok gipsi laut yang ada di Kendari menyiarkan berita ke komunitas mereka, yang membentang sepanjang samudera dari Aceh di bagian barat Indonesia ke Papua di timur.

Secara historis Bajau menggunakan keterampilan pelaut mereka untuk melindungi kerajaan Sulawesi selatan. Mereka hidup dalam kelompok kecil bergerak dari lokasi penangkapan ikan yang satu ke lokasi yang lain. Tapi saat ini, di tenggara Pulau Sulawesi, mereka sebagian besar tinggal di desa-desa kecil yang dibangun diatas air, dan telah meninggalkan perahu kano mereka yang disebut Leppa.

Asman Junaidi, salah seorang tokoh suku Bajau, berkata dia hanya berpenghasilan sekitar 2 sampai 3 dolar sehari, yang hampir tidak cukup untuk memberi makan keluarganya. Dia mengatakan satu masalah utama mereka adalah sekarang terdapat penangkapan ikan yang berlebihan, dengan kapal yang datang dari daerah lain. "Sekarang, banyak orang yang datang dari luar untuk mencari ikan. Misalnya, ada orang dari Makassar, yang datang ke sini hanya untuk mencari ikan, " katanya. "Jadi bagi kita orang di sini - itu membuat sulit bagi kami, karena orang luar datang ke perairan ini." Di desa Junaidi dari Mekar, di Sulawesi Tenggara, sebagian besar keluarga nelayan terkikis, melepaskan kehidupan nomaden mereka yang keras demi kehidupan yang lebih mapan.
Ketika mereka pindah ke sini 20 tahun lalu sebagai bagian dari rencana pemerintah, mereka banyak berharap akan mendapatkan manfaat dari kehidupan modern, seperti akses ke sekolah, air dan sanitasi. Tapi desa ini jauh terpencil di mana fasilitas yang rusak tak akan pernah diperbaiki kembali. Meski Bajau menikmati beberapa fasilitas dasar, seperti listrik dan pendidikan dasar, mereka masih miskin dibandingkan kelompok etnis lain di sini. Bajau masih banyak menggunakan metode tradisional mereka menangkap ikan - menggunakan jaring dan tombak untuk mengangkut tangkapan mereka.

Parmen adalah dari LEPDES, sebuah kelompok lingkungan yang aktif di wilayah Bajau. Dia mencatat bahwa pesaing suku Bajau menggunakan bom ikan atau pukat. "Masalah ini disebabkan karena nelayan dari luar memiliki peralatan canggih, tapi nelayan Bajau di sini hanya memiliki alat tradisional. Bahkan ada beberapa kapal dari negara asing, "katanya. "Kami melihat perahu-perahu dari Filipina, Taiwan dengan peralatan modern. Dan mereka mengambil semua ikan yang baik dan hanya meninggalkan sebagian ikan yang kecil. Parmen mengatakan masalah lain adalah bahwa orang Bajau yang kurang berpendidikan dan tidak mengerti bagaimana memasarkan ikan mereka atau mendapatkan harga yang baik. Banyak orang Bajau dewasa yang hanya memiliki pendidikan minimal. Mereka ingin melihat anak-anak mereka lebih terdidik. Tapi mereka harus berjuang untuk membayar biaya transportasi untuk mengirim anak-anak mereka belajar di luar sekolah dasar.

Ambo Lewa, salah satu presenter radio, mengatakan ini adalah bagian dari ide di balik program radio suku Bajau. Ia mengatakan program itu mencoba untuk berkomunikasi dengan pendengar untuk memenuhi kebutuhan dan meningkatkan pengetahuan suku Bajau serta penggunaan teknologi, sehingga orang Bajau tidak ketinggalan. Ia menekankan kebutuhan bagi suku Bajau untuk pergi ke sekolah demi membangun masa depan mereka. Dia menyiarkan program tentang bagaimana teknologi dapat digunakan untuk mengatasi proses globalisasi yang sudah mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Dia ingin program untuk menyebarkan keterampilan dan informasi untuk membantu Bajau mengatasi masalah di dunia modern.

Lewa mengatakan ia juga mencoba untuk menanamkan kebanggaan di kalangan orang Bajau, sejarah mereka dan bahasa mereka, sehingga Bajau tidak akan malu terhadap kehidupan tradisional mereka. Para LEPDES kelompok lingkungan berusaha untuk mendidik orang Bajau tentang keuntungan menggunakan tradisi Bajau yaitu menghormati lingkungan untuk memastikan bahwa masa depan generasi muda dari penangkapan ikan akan masih bisa bertahan hidup.

Parmen, dari LEPDES, mengatakan perlindungan terumbu karang dan rehabilitasi pohon bakau adalah kunci utama pelestarian lingkungan. "Kami membantu mereka dalam menemukan cara untuk melestarikan kehidupan mereka, bagaimana dapat melestarikan kehidupan laut, karang, menanam bakau untuk merehabilitasi pantai yang telah rusak, "katanya. "Orang-orang sini sekarang memahami pentingnya karang, jika mereka meningkatkan karang maka akan ada lebih banyak ikan". Parmen mengakui bahwa meskipun dari beberapa metode dan cara hidup tradisional mereka memberi manfaat pada lingkungan, aspek lain dari kehidupan suku Bajau harus dimodernisasi. Orang Bajau banyak yang tidak memiliki toilet atau akses ke air yang mengalir.

Suku Bajau tidak sendirian dalam perjuangan mereka. Mereka merunut akar mereka dan bahasa mereka kembali ke Johor di Malaysia, mereka percaya berasal dari Johor, pindah ke Sulawesi pada abad ke 17. Kelompok masyarakat gipsi laut seperti mereka juga eksis di perairan sekitar Thailand, Malaysia, Filipina dan Burma. Semua dari mereka menghadapi persaingan dari operasi penangkapan ikan skala besar yang datang dari negara-negara Asia Utara yang lebih berkembang atau dari tempat lain.

Orang Bajau berusaha untuk menyesuaikan diri dan mengejar ketinggalan - dengan bantuan program radio dan beberapa pengetahuan tambahan.

Writen by Marianne Kearney
Article Posted on 12/27/2007
Source: Amazines
Terjemahan bebas : Endang Lestari

Bahasa Indonesia Inggris Jerman

Bahasa