Panduan Wisata Indonesia

Identitas Suku Bangsa Sunda

identitas Sunda
Wayang Golek Puppets © Andy Green - AGMIT
Walaupun ada kemiripan dalam bidang sosial, ekonomi dan politik di antara orang Jawa dan Sunda, perbedaannya juga banyak. Suku Sunda yang pada prinsipnya hidup di Jawa Barat, namun bahasa mereka tidak dapat dipahami oleh orang Jawa. Lebih dari 21 juta orang Sunda, pada 1992, mempunyai hubungan yang lebih kuat terhadap agama Islam daripada orang Jawa, terbukti dengan adanya syarat-syarat pendaftaran di pesantren dan terbentuknya afiliasi keagamaan. Walaupun bahasa Sunda, seperti halnya bahasa Jawa, mempunyai tingkatan yang rumit, namun bentuk rasa hormat ini digabungkan dengan nilai Islamiah, seperti maksud tradisional dari kata hormat (mengetahui sopan santun dan bisa menempatkan diri dengan benar dalam masyarakat). Anak dididik bahwa bertingkah laku dengan rasa hormat adalah bagian dari ajaran agama, yaitu kemenangan akal terhadap nafsu. Hal ini diuraikan di pesantren, di mana anak belajar menghapalkan Al Qur'an dalam bahasa Arab. Melalui latihan secara terus menerus dan latihan pengucapan lafal yang benar, anak belajar bahwa tingkah laku yang baik berarti mengikuti ajaran lisan pemimpin mereka dan mengiterpretasikan Al Qur'an sendiri secara subyektiv adalah sebuah tanda-tanda individualisme yang menyimpang.

Walaupun dalam praktek agama mereka, orang Sunda juga dipengaruhi oleh kepercayaan Hindu-Buddha seperti tetangga mereka orang Jawa - misalnya kepercayaan animisme pada roh-roh dan pemusatan pikiran serta penguasaan diri yang baik sebagai cara menguasai roh-roh tersebut - tradisi sopan-santun orang Sunda berbeda dengan yang dimiliki orang Jawa. Bahasa Sunda memiliki literatur tinggi yang tersimpan dengan baik dalam bentuk hikayat India atau drama pewayangan. Drama ini menggunakan wayang golek yang kontras sekali dengan wayang kulit dari Jawa maupun Bali. Tata cara sopan santun orang Sunda lebih berorientasi pada aturan-aturan Islam bukan tradisi kaum elit seperti halnya orang Jawa. Sebagai seorang Antropolog Jessica Glicken telah melakukan observasi dan menyatakan bahwa agama Islam hadir secara jelas dan nyata dalam kehidupan orang Sunda sehari-hari. Dia melaporkan bahwa panggilan sholat atau adzan disiarkan melalui pengeras suara lima kali sehari di setiap masjid di kota Bandung, dan tepat waktu setiap harinya. Pada Jum'at tengah hari, laki-laki dewasa dan anak-anak dengan berpakaian sarung memenuhi jalan menuju masjid untuk melakukan ibadah sholat tengah hari atau yang dikenal sebagai Jum'atan, hal ini mewujudkan kehidupan komunitas yang agamis (ummah) pada masyarakat Sunda. Dia juga menekankan adanya rasa kebanggaan yang kental / militan pada orang Sunda terhadap agama Islam. Dia mengatakan Sewaktu saya pergi mengelilingi propinsi ini pada tahun 1981, orang akan menunjukkan rasa kebanggaan terhadap gerakan militer aliran keras periode Darul Islam.

Tidak mengherankan jika daerah Sunda pernah menjadi basis utama gerakan separatis Darul Islam yang melakukan pemberontakan secara terus menerus mulai dari tahun 1948 sampai tahun 1962. Akar pemberontakan ini sudah menjadi sumber kontroversi, meski demikian seorang peneliti Politik Karl D. Jackson mencoba untuk mengemukakan bahwa ikut tidaknya kaum laki-laki mengambil peran dalam pemberontakan tersebut bukan disebabkan oleh faktor agama melainkan sejarah kehidupan seseorang itu sendiri. Laki-laki mengambil bagian dalam pemberontakan tersebut jika mereka mempunyai hubungan yang dekat dengan pemimpin agama atau kepala desa yang membujuk mereka untuk melakukan hal itu.

Meski suku Sunda dan Jawa memiliki kemiripan dalam struktur keluarga, ekonomi dan sistem politik, mereka merasa adanya perseteruan satu sama lain. Di saat migrasi antar daerah meningkat di tahun 80an dan 90an, kecenderungan untuk merendahkan tradisi atau adat satu sama lain semakin intensiv, meskipun secara sosial ekonomi terjadi adanya peningkatan kerjasama.



Written by The Library of Congress - Country Studies

Data as of November 1992

Diterjemahkan secara bebas oleh Endang Lestari

Bahasa Indonesia Inggris Jerman

Bahasa